Rahasia zakat
Zakat adalah tidak sekedar mengeluarkan harta saja. Ada amalan batiniah yang kita sebut sebagai rahasia zakat yang harus diketahui, sehingga dengan mengetahuinya maka ibadah ini jadi lebih bermakna. Berikut adalah delapan rahasia zakat.
1. Makna dan tujuan zakat
- Sebagai pembersih secara batiniah akan harta dan kekayaan yang didapat dari Allah SWT.
- Sebagai pilar agama, karena:
- Difungsikan sebagai pelaksanaan dua kalimah syahadat, sebagai pelaksanaan rukun islam. Zakat diyakini sebagai perintah Allah SWT. Harta yang kita miliki adalah hal yang kita cintai. Namun karena ini adalah perintah Allah, maka kita lepaskan kecintaan dunia ini.
- Membersihkan diri dari sifat kikir, sifat yang sangat merusak.
- Sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.
2. Waktu membayar zakat
Orang yang beriman tahu kapan harus membayar zakat, besarnya, dan syarat-syaratnya. Orang yang membayar zakat adalah orang yang paham syariat.
3. Nyatakan sebagai hak bagi penerima, bukan sebagai rezki dari si pemberi
Harta zakat adalah harta yang kebetulan singgah di kantong kita. Itu rta zakat itu bukan milik kita. Harta itu hak si penerima zakat. Dengan demikian jika sesuatu itu bukan hak kita maka tidak pantas bila kita tetap memegangnya. Harta itu harus dilepaskan, diberikan kepada yang berhak. Kita sangat dilarang memiliki sesuatu yang bukan hak kita.
4. Boleh dilakukan secara terang-terangan
Pemberian zakat boleh dilakukan secara terang-terangan dengan maksud agar orang lain terdorong melakukannya. Bagian dari syiar agama. Bukan untuk riya.
5. Tidak menyebut-nyebut pemberian zakat yang dapat menyakitkan hati si penerima
Ini soal cara. Cara yang baik dalam penyerahan zakat tetaplah penting. Zakat bukan tentang besarnya saja, tapi juga adab. Berikanlah kata-kata yang baik saat menyerahkan zakat kepada si penerima. Jangan merendahkan mereka. Tetap junjung tinggi pemahaman bahwa si penerima itu adalah orang yang dihadirkan oleh Allah agar harta kita bisa tersalurkan. Si penerima zakat adalah orang yang hadir agar kita terhindar dari siksa api neraka.
6. Membayar zakat bukan perkara besar
Membayar zakat hendaknya dipandang sebagai hal kecil saja, bukan sebagai hal yang besar dan berat. Jika dipadang sebagai hal yang besar maka dikhawatirkan akan muncul rasa berbangga diri ketika telah selesai melakukannya. Sebagaimana lazimnya manusia dimana ketika telah selesai melakukan suatu pekerjaan yang besar, muncul rasa takjub setelahnya. Ada dorongan untuk menceritakannya kepada orang lain bahwa kita telah menyelesaikan pekerjaan itu. Semoga kita terhindar dari berbangga diri setelah membayar zakat.
7. Berikan harta yang paling baik
Harta yang dizakatkan adalah bagian dari harta yang kita konsumsi atau kita miliki. Kita tentu tidak mau memakan harta yang biasa-biasa saja. Makanan terbaiklah yang kita makan. Minum tersegar dan tersehatlah yang kita minum. Hasil ternak terbaiklah yang kita rawat. Harta-harta seperti itulah layaknya yang kita zakatkan. Bukan harta yang kitapun tidak ridho memakannya; harta yang berupa sisa-sisa yang tidak terpakai. Bukan itu.
8. Cari penerima yang bertaqwa
Kita tentu senang bila harta yang kita berikan dimanfaatkan dengan baik oleh si penerima meskipun pahala zakat sudah dihitung ketika kita membayarkannya terlepas dari pemanfaatannya oleh si penerima. Berikanlah zakat kepada yang berhak lagi bertaqwa, sehingga harta yang dia terima akan dia manfaatkan untuk meningkatkan taqwanya kepada Allah.
(Dari kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, karya Imam Al Ghazali. Edisi terjemahan. Buku Rahasia Ibadah, halaman 127. Penerbit Republika. Tahun 2011)